Erick Ungkap Update Timnas, Wasit, dan Liga Indonesia usai Rapat Exco
Atletic Zone Hub – Rapat Exco PSSI yang dipimpin Erick Thohir pada Jumat, 28 Agustus 2026, menghasilkan sejumlah pembaruan penting untuk sepak bola Indonesia. Agenda yang dibahas tidak hanya menyentuh Timnas Indonesia. PSSI juga mengevaluasi kualitas wasit serta persiapan kompetisi nasional. Salah satu perkembangan paling mencolok datang dari sektor perwasitan. Indonesia kini memiliki tiga AFC Elite Referee. Selain itu, jumlah wasit nasional disebut meningkat dari sekitar 7.000 menjadi 23.000 orang. I.League juga menyampaikan dua kompetisi baru yang akan bergulir musim 2026/27. Indonesia Women’s League dijadwalkan mulai 17 Oktober 2026. Sementara itu, League Cup direncanakan bergulir pada 3 November. Di sektor tim nasional, Badan Tim Nasional atau BTN melakukan evaluasi dan menyiapkan program untuk tim putra maupun putri di berbagai kelompok umur. Rangkaian agenda tersebut menunjukkan bahwa pembenahan PSSI diarahkan dari level kompetisi hingga tim nasional.
Baca Juga: Barcelona Akhirnya Leluasa Daftarkan Rekrutan Baru, Camp Nou Jadi Kunci Finansial
Erick Thohir Pimpin Rapat Exco PSSI
Erick Thohir membagikan perkembangan Rapat Exco PSSI melalui akun Instagram pribadinya pada Jumat, 28 Agustus 2026. Ketua Umum PSSI itu menyebut rapat membahas tiga bidang besar. Pertama adalah perkembangan Timnas Indonesia. Kemudian, peningkatan kualitas dan kapasitas wasit menjadi agenda berikutnya. Persiapan liga juga mendapatkan perhatian. Ketiga bidang tersebut memang saling berkaitan dalam pembangunan sepak bola nasional. Tim nasional membutuhkan kompetisi yang sehat untuk mendapatkan pemain berkualitas. Sementara itu, kompetisi membutuhkan perangkat pertandingan yang kompeten agar berjalan kredibel. Karena itu, pembenahan satu sektor saja tidak akan cukup. Menariknya, rapat kali ini menghasilkan sejumlah angka dan jadwal yang konkret. Ada perkembangan jumlah wasit, pengakuan AFC Elite Referee, serta kepastian jadwal kompetisi putri. BTN juga mendapat tugas melakukan evaluasi sekaligus menyiapkan tim nasional dari level senior sampai kelompok umur.
Indonesia Kini Punya Tiga AFC Elite Referee
Salah satu kabar penting datang dari Komite Wasit PSSI. Erick mengungkapkan bahwa Indonesia untuk pertama kalinya memiliki tiga AFC Elite Referee. Status tersebut menjadi indikator penting bagi perkembangan kualitas wasit nasional. Pasalnya, AFC Elite Referee merupakan kelompok wasit yang memenuhi standar untuk mendapatkan penugasan pada kompetisi tingkat Asia. Namun, pencapaian ini sebaiknya dilihat sebagai awal, bukan tujuan akhir. Sepak bola Indonesia masih membutuhkan konsistensi keputusan dan peningkatan kualitas perangkat pertandingan di berbagai level. Keberadaan wasit elite dapat menjadi referensi bagi pengembangan generasi berikutnya. Selain itu, peningkatan kualitas perlu berjalan bersama pendidikan, evaluasi, kebugaran, serta pengalaman memimpin pertandingan. Menurut saya, keberhasilan sebenarnya baru terlihat ketika perkembangan tersebut terasa sampai kompetisi domestik. Kepercayaan pemain, pelatih, klub, dan penonton terhadap perangkat pertandingan tetap menjadi ukuran penting. Karena itu, pencapaian tiga wasit elite memberikan momentum yang perlu dijaga.
Jumlah Wasit Melonjak dari 7.000 Menjadi 23.000
Perubahan tidak hanya terlihat pada level tertinggi. Erick juga menyampaikan peningkatan jumlah wasit secara nasional. Sebelumnya, Indonesia memiliki sekitar 7.000 wasit. Kini jumlahnya disebut mencapai 23.000 wasit yang tersebar di berbagai daerah. Artinya, terdapat kenaikan sekitar 16.000 orang dibanding angka sebelumnya. Pertumbuhan kuantitas ini memberikan fondasi yang lebih luas bagi kompetisi nasional maupun daerah. Namun, jumlah besar harus dibarengi kualitas yang merata. Wasit membutuhkan pendidikan berkelanjutan, tes kebugaran, pemahaman Laws of the Game, dan pengalaman pertandingan. Selain itu, jalur promosi yang jelas diperlukan agar wasit potensial dari daerah dapat berkembang. Jika sistem tersebut berjalan konsisten, peningkatan jumlah wasit dapat memberikan dampak jangka panjang. Kompetisi kelompok umur dan liga regional juga memiliki lebih banyak perangkat pertandingan yang dapat dikembangkan. Dengan demikian, lonjakan dari 7.000 menjadi 23.000 bukan sekadar statistik. Angka tersebut menjadi modal untuk memperluas basis perwasitan Indonesia.
Indonesia Women’s League Dimulai 17 Oktober 2026
Dari sektor kompetisi, Indonesia Women’s League 2026/27 menjadi salah satu agenda utama. Kompetisi sepak bola putri tersebut dipastikan mulai 17 Oktober 2026. Laga pembuka mempertemukan Persita Tangerang dan Persija Jakarta. Kompetisi diikuti enam klub, yaitu Persija, Persita, Dewa United FC, FC Bekasi City, Persikad Depok, dan Garudayaksa FC. Pertandingan akan berlangsung secara terpusat di Jakarta, dengan Stadion Soemantri Brodjonegoro menjadi lokasi utama. Format awal menggunakan sistem triple round-robin. Dengan demikian, setiap klub memainkan minimal 15 pertandingan pada fase tersebut. Setelah itu, empat tim terbaik melaju menuju semifinal sebelum dua pemenang bertarung di final. Kompetisi diproyeksikan selesai pada Januari 2027. Kehadiran liga putri yang lebih terstruktur menjadi langkah penting. Timnas putri membutuhkan kompetisi rutin agar pemain mendapatkan menit bermain, bukan hanya berkumpul menjelang turnamen internasional.
League Cup Dijadwalkan Bergulir pada 3 November
I.League juga menyampaikan rencana kompetisi baru lainnya, yaitu League Cup. Berdasarkan hasil rapat yang disampaikan Erick, turnamen tersebut dijadwalkan mulai 3 November 2026. Kehadiran League Cup membuat kalender kompetisi sepak bola profesional Indonesia semakin beragam. Secara teori, turnamen tambahan dapat memberikan menit bermain lebih banyak kepada pemain. Pelatih juga memiliki ruang untuk melakukan rotasi dan memberikan kesempatan kepada anggota skuad yang jarang bermain di liga. Namun, penyelenggara perlu menjaga keseimbangan kalender. Jadwal yang terlalu padat dapat meningkatkan beban pemain, terutama bagi klub yang juga tampil di kompetisi Asia. Karena itu, pengaturan jadwal, waktu pemulihan, dan perjalanan perlu mendapatkan perhatian. Di sisi lain, kompetisi baru dapat menciptakan produk komersial tambahan bagi sepak bola Indonesia. Jika dikelola dengan baik, League Cup berpotensi memperluas variasi kompetisi sekaligus memberikan pertandingan tambahan yang memiliki nilai bagi klub maupun pendukung.
Kontribusi Liga kepada Klub Juga Akan Meningkat
Selain memperkenalkan kompetisi baru, I.League melaporkan peningkatan kontribusi liga kepada klub yang berkompetisi. Informasi yang disampaikan Erick belum merinci nominal tambahan untuk setiap peserta. Karena itu, peningkatan tersebut tidak tepat diterjemahkan menjadi angka tertentu sebelum terdapat pengumuman resmi lebih lengkap. Namun, secara prinsip, distribusi ekonomi liga sangat penting bagi keberlanjutan klub. Tim membutuhkan pemasukan untuk membayar pemain, mengembangkan akademi, menjalankan pertandingan, dan memperbaiki fasilitas. Kompetisi yang sehat juga membutuhkan klub dengan kondisi finansial yang lebih stabil. Karena itu, peningkatan kontribusi liga dapat memberikan dampak positif apabila distribusinya dilakukan secara transparan dan berkelanjutan. Di sisi lain, klub tetap harus mengembangkan sumber pendapatan sendiri. Sponsor, tiket, merchandise, aktivitas komersial, dan pengembangan pemain dapat menjadi bagian dari model bisnis. Liga yang semakin profesional pada akhirnya tidak hanya dinilai dari pertandingan. Kesehatan finansial pesertanya juga menjadi bagian penting dari ekosistem tersebut.
BTN Evaluasi Perkembangan Timnas Indonesia
Timnas Indonesia juga menjadi pembahasan penting dalam Rapat Exco PSSI. Erick menyampaikan bahwa Badan Tim Nasional telah melakukan evaluasi dan akan menjalankan sejumlah perbaikan. Namun, hasil rapat yang dipublikasikan tidak menjabarkan detail teknis mengenai aspek apa saja yang dinilai. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan adanya perubahan pelatih, pemain, atau sistem permainan tanpa informasi resmi tambahan. Evaluasi sendiri merupakan proses penting dalam pengelolaan tim nasional. Hasil pertandingan hanya menjadi satu bagian. Performa pemain, program latihan, regenerasi, kalender pertandingan, koordinasi dengan klub, hingga kesiapan kelompok umur juga perlu diperhatikan. Terlebih, Indonesia memiliki beberapa tim nasional yang berjalan secara bersamaan. BTN harus memastikan setiap kelompok memiliki program yang jelas dan saling terhubung. Dengan pendekatan tersebut, tim senior tidak berdiri sendiri. Pemain muda mempunyai jalur perkembangan yang dapat membawa mereka menuju level tertinggi secara bertahap.
Timnas U-23 hingga U-16 Masuk Agenda Persiapan
Persiapan BTN mencakup banyak kelompok usia. Erick menyebut Timnas Indonesia senior, U-23, U-20, U-17, dan U-16 sebagai bagian dari agenda mendatang. Artinya, perhatian PSSI tidak hanya diarahkan kepada skuad senior yang mendapatkan sorotan paling besar. Kelompok umur juga menjadi fondasi regenerasi. Dalam sepak bola modern, jalur tersebut sangat penting karena pemain muda membutuhkan transisi yang terencana. Tim U-16 dan U-17 menjadi tahap awal untuk mendapatkan pengalaman internasional. Selanjutnya, U-20 dan U-23 menjadi jembatan menuju tim senior. Namun, keberhasilan sistem tidak cukup diukur dari banyaknya pemusatan latihan. Menit bermain di klub, kualitas kompetisi usia muda, pendidikan pelatih, dan pemantauan pemain harus berjalan bersama. Oleh sebab itu, koordinasi antara BTN, klub, akademi, dan kompetisi domestik menjadi penting. Jika setiap kelompok usia mempunyai filosofi pengembangan yang berkesinambungan, proses regenerasi dapat berlangsung lebih natural.
Timnas Putri Senior dan Kelompok Umur Turut Dipersiapkan
Agenda BTN juga mencakup sepak bola putri. Erick menyebut Timnas Putri senior, U-20, dan U-17 akan dipersiapkan untuk menghadapi agenda berikutnya. Kebijakan tersebut menjadi semakin relevan karena Indonesia Women’s League 2026/27 akan dimulai pada Oktober. Kompetisi domestik dapat memberikan ruang bermain reguler kepada pemain yang sebelumnya lebih bergantung pada agenda tim nasional atau turnamen tertentu. Selain itu, liga dapat membantu staf pelatih memantau lebih banyak pemain. Indonesia Women’s League musim ini diikuti enam klub dan menggunakan format terpusat. Setiap tim memainkan minimal 15 pertandingan pada fase awal. Jumlah tersebut memang belum sebesar liga dengan peserta lebih banyak. Namun, keberadaan kalender yang jelas memberikan fondasi untuk pengembangan berikutnya. Erick sebelumnya juga menegaskan bahwa sepak bola putri tidak boleh dinomorduakan. Tantangan selanjutnya adalah memastikan liga berjalan konsisten dari musim ke musim sehingga jalur pemain muda menuju Timnas Putri semakin kuat.
Pembenahan PSSI Kini Dituntut Terlihat di Lapangan
Hasil Rapat Exco PSSI memperlihatkan agenda yang cukup luas. Indonesia memiliki tiga AFC Elite Referee dan jumlah wasit nasional meningkat menjadi 23.000. Indonesia Women’s League akan dimulai pada 17 Oktober. Kemudian, League Cup direncanakan bergulir pada 3 November. BTN juga melakukan evaluasi dan mempersiapkan tim nasional putra maupun putri dari berbagai kelompok usia. Namun, tantangan berikutnya adalah mengubah rencana tersebut menjadi hasil nyata. Peningkatan jumlah wasit perlu diikuti kualitas keputusan di lapangan. Kompetisi baru membutuhkan penyelenggaraan yang konsisten. Sementara itu, program tim nasional harus mampu menciptakan jalur regenerasi yang jelas. Menurut saya, keterhubungan antarprogram menjadi kunci. Liga, pembinaan pemain, perwasitan, dan tim nasional tidak bisa berkembang secara terpisah. Jika pembenahan berjalan bersamaan dan berkelanjutan, hasil rapat Exco kali ini dapat memiliki dampak lebih besar daripada sekadar rangkaian agenda administratif.
