Pelatih Vietnam U-20 Ungkap Alasan Dibantai Korut 0-3

Pelatih Vietnam U-20 Ungkap Alasan Dibantai Korut 0-3

Atletic Zone HubVietnam U-20 kalah dari Korea Utara dengan skor telak 0-3 pada laga pembuka Grup C Kualifikasi Piala Asia U-20 2027. Pertandingan berlangsung di Stadion Việt Trì, Phú Thọ, pada Senin, 31 Agustus 2026. Hasil tersebut menjadi pukulan bagi tim asuhan Yutaka Ikeuchi. Terlebih lagi, Vietnam bermain di depan pendukung sendiri dan mampu menahan lawan tanpa gol sepanjang babak pertama. Namun, situasi berubah drastis setelah turun minum. Korea Utara meningkatkan tekanan dan memanfaatkan kesalahan tuan rumah. Tiga gol kemudian bersarang ke gawang Vietnam dalam waktu singkat. Kekalahan tersebut membuat perjalanan Vietnam menuju putaran final menjadi lebih berat. Meski demikian, Ikeuchi menegaskan bahwa perjuangan timnya belum berakhir. Menurut pelatih asal Jepang itu, Vietnam harus segera mengevaluasi kekurangan sebelum menjalani pertandingan berikutnya.

Baca Juga: Lionel Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Akhiri Perjalanan Dua Dekade

Strategi Bertahan Vietnam Berjalan Baik pada Babak Pertama

Vietnam sebenarnya tidak tampil buruk sejak awal pertandingan. Yutaka Ikeuchi memilih pendekatan yang cukup hati-hati untuk menghadapi kekuatan fisik Korea Utara. Vietnam lebih banyak menjaga organisasi pertahanan. Setelah mendapatkan bola, mereka mencoba membangun serangan balik dengan cepat. Strategi tersebut cukup efektif sepanjang 45 menit pertama. Korea Utara memang memberikan tekanan, terutama melalui pressing dan duel fisik. Namun, Vietnam mampu menjaga skor tetap 0-0 hingga turun minum. Kiper Hoa Xuân Tín bahkan melakukan beberapa penyelamatan penting. Salah satunya terjadi pada menit ke-21 ketika Korea Utara memperoleh dua peluang berbahaya secara beruntun. Sementara itu, Vietnam mendapatkan kesempatan melalui Nguyễn Lê Phát pada menit ke-34. Sayangnya, sundulannya belum menemui sasaran. Menurut Ikeuchi, para pemain mampu mengikuti rencana permainan pada periode tersebut.

Gol Cepat Korea Utara Mengubah Jalannya Pertandingan

Masalah Vietnam muncul segera setelah pertandingan memasuki babak kedua. Korea Utara mencetak gol pembuka tidak lama setelah laga dilanjutkan. Tekanan kemudian semakin berat bagi tuan rumah. Pada menit ke-50, Ri Hyok Gwang membawa Korea Utara unggul 2-0 setelah memanfaatkan situasi di depan gawang. Vietnam belum sempat mengembalikan keseimbangan ketika serangan berikutnya datang. Delapan menit kemudian, Kim Yu Jin menyelesaikan serangan balik dan membuat skor berubah menjadi 3-0. Dengan demikian, Korea Utara berhasil mencetak tiga gol pada fase awal babak kedua. Perubahan cepat tersebut menjadi titik balik pertandingan. Vietnam yang sebelumnya disiplin mulai kehilangan struktur permainan. Sebaliknya, Korea Utara semakin nyaman menggunakan keunggulan fisik, kecepatan, serta kemampuan duel satu lawan satu.

Yutaka Ikeuchi Soroti Kurangnya Pengalaman Pemain

Yutaka Ikeuchi menilai faktor pengalaman ikut memengaruhi penampilan anak asuhnya. Setelah tertinggal, para pemain muda Vietnam mulai menunjukkan kecemasan. Mereka ingin segera mengejar skor. Namun, keinginan tersebut justru membuat organisasi permainan berubah. Vietnam mulai menaikkan banyak pemain untuk menyerang. Akibatnya, ruang di belakang menjadi semakin terbuka. Kondisi tersebut dimanfaatkan Korea Utara melalui transisi cepat. Menurut Ikeuchi, dua gol yang terjadi dalam waktu berdekatan membuat keseimbangan tim terganggu. Penilaian itu terlihat masuk akal jika melihat jalannya pertandingan. Vietnam mampu menjaga struktur selama babak pertama. Namun, organisasi mereka menurun setelah gol pertama. Dalam sepak bola kelompok usia, situasi seperti ini memang menjadi tantangan besar. Pemain tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis. Mereka juga perlu belajar mengendalikan tempo dan emosi ketika pertandingan berubah dengan cepat.

Fisik dan Kecepatan Korea Utara Jadi Pembeda

Selain faktor mental, Korea Utara terlihat memiliki keunggulan dalam duel fisik. Tim tamu juga mampu melakukan pressing dengan intensitas tinggi sejak awal. VOV mencatat Korea Utara unggul dalam duel satu lawan satu dan kecepatan. Kondisi tersebut membuat Vietnam kesulitan mengembangkan serangan. Dalam situasi seperti ini, kesalahan kecil dapat menghasilkan konsekuensi besar. Hal tersebut terlihat ketika Korea Utara memperoleh momentum pada awal babak kedua. Mereka tidak memberikan banyak waktu bagi Vietnam untuk memulihkan permainan. Menurut saya, aspek inilah yang menjadi salah satu pelajaran terbesar bagi Vietnam. Mereka sebenarnya mampu bertahan selama 45 menit. Namun, level kompetisi Asia menuntut konsentrasi sepanjang pertandingan. Ketika struktur pertahanan mulai terbuka, lawan dengan transisi cepat dapat langsung menghukum kesalahan tersebut.

Kehilangan Nguyễn Lê Phát Jadi Tantangan Tambahan

Vietnam juga menghadapi persoalan lain setelah pertandingan melawan Korea Utara. Nguyễn Lê Phát tidak akan tersedia untuk dua pertandingan tersisa di Grup C. Pemain kelahiran 2007 tersebut harus kembali ke klubnya untuk menjalani agenda V.League. Kehilangan Lê Phát cukup berarti bagi tim asuhan Ikeuchi. Ia termasuk pemain yang memiliki pengalaman kompetitif lebih banyak dibandingkan sejumlah rekannya. Lê Phát bahkan mendapatkan peluang terbaik Vietnam pada babak pertama melawan Korea Utara melalui sundulan pada menit ke-34. Karena itu, Ikeuchi harus mencari solusi baru di lini tengah dan serangan. Pelatih juga perlu menjaga keseimbangan antara keberanian menyerang dan disiplin bertahan. Situasinya semakin menantang karena Vietnam masih harus mengejar hasil positif pada pertandingan berikutnya.

Kekalahan 0-3 Membuat Persaingan Grup C Semakin Berat

Hasil ini membuat posisi Vietnam dalam perebutan tiket putaran final menjadi lebih sulit. Grup C bukan kelompok yang ringan karena juga dihuni Iran dan Palestina selain Korea Utara. Oleh sebab itu, setiap pertandingan memiliki nilai penting. Vietnam kini tidak memiliki banyak ruang untuk kehilangan poin. Namun, kekalahan pada pertandingan pertama belum otomatis mengakhiri peluang mereka. Fokus utama adalah bagaimana tim merespons hasil buruk tersebut. Jika Vietnam mampu mempertahankan kedisiplinan seperti pada babak pertama, peluang bangkit masih terbuka. Sebaliknya, masalah kehilangan keseimbangan setelah kebobolan harus segera diperbaiki. Pertandingan melawan Korea Utara memberikan gambaran cukup jelas. Vietnam mampu bersaing ketika struktur permainan berjalan sesuai rencana. Akan tetapi, mereka kesulitan ketika pertandingan berubah menjadi duel terbuka dengan tempo tinggi.

Ikeuchi Tegaskan Vietnam Belum Menyerah

Meski menerima kekalahan besar, Yutaka Ikeuchi tidak ingin pemainnya kehilangan kepercayaan diri. Pelatih asal Jepang tersebut menilai perjalanan di babak kualifikasi masih harus dilanjutkan. Evaluasi menjadi fokus utama setelah kekalahan tersebut. Tim pelatih perlu melihat kembali aspek yang sudah berjalan baik dan bagian yang masih membutuhkan perbaikan. Sikap tersebut penting karena Vietnam sebenarnya menunjukkan dua wajah berbeda dalam satu pertandingan. Pada babak pertama, mereka disiplin dan mampu menahan Korea Utara. Namun, setelah jeda, tiga gol cepat mengubah seluruh situasi. Bagi skuad muda, pengalaman seperti ini dapat menjadi pelajaran berharga. Kekalahan 0-3 memang terasa berat. Namun, kemampuan merespons kekalahan juga menjadi bagian penting dalam perkembangan pemain muda. Sekarang, tantangan terbesar Ikeuchi adalah mengembalikan ketenangan tim sekaligus memperbaiki organisasi permainan sebelum laga berikutnya.